Matematika dalam Islam

“MATEMATIKA DALAM ISLAM”
Oleh : Zulfian Yusmana, S.Pd
I. Pendahuluan
Banyak terdengar keluhan bahwa pelajaran matematika membosankan, tidak menarik, dan bahkan penuh misteri. Ini disebabkan karena pelajaran matematika dirasakan sukar, gersang, dan tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini adalah sebuah presepsi yang negatif terhadap matematika. Sementara itu, ada juga siswa yang sangat menikmati keasyikan bermain dengan matematika, mengagumi keindahan matematika dan tertantang untuk memecahkan setiap soal matematika. Kedua persepsi ini pasti ada dalam pendidikan matematika dimana-mana. Masalahnya adalah mengapa persepsi negatif lebih banyak terdengar daripada persepsi positif. Mengapa?
Banyak hal yang dapat dikaji untuk mengungkap masalah persepsi negatif ini. Ada kemungkinan bersumber dari porsi materi matematikanya yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa; ada kemungkinan bersumber dari strategi pembelajarannya yang menyajikan aturan-aturan yang penuh misteri, tidak jelas asal-usulnya. Demikian juga sebaliknya, banyak hal yang dapat diupayakan untuk membentuk persepsi positif terhadap matematika..
Berkenaan dengan hal di atas maka sangat perlu adanya perubahan dalam sistem pembelajaran matematika.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan banyak persoalan yang tanpa disadari telah membuat keterlibatan kita dengan menghitung (Matematika). Baik kehidupan yang berhubungan dengan masalah ibadah ataupun muamalah, memang tak dapat lepas dari persoalan matematika tersebut.
Dapat dibayangkan seseorang yang tak bisa menghitung antara 1 sampai 10 misalnya, bagaimana ia dapat melaksanakan shalatnya dengan benar? Padahal hitungan rakaat dalam shalat adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi. Belum lagi jika harus menghitung besarnya kewajiban zakat, menghitung hal waris bahkan mengukur arah kiblat dan jadwal shalat. Dari gambaran sederhana dan singkat tersebut, cukup kiranya untuk memberikan alasan kepada kita, bahwa mempelajari atau menguasai matematika bagi ummat Islam memang perlu. Walaupun sebenarnya tingkatan penguasaannya tentu berbeda antara yang satu dengan yang lain, sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Namun, pada tulisan ini, penulis tidak bermaksud untuk membahas mengenai bagaimana hukumnya mempelajari matematika tersebut. Ini semata-mata karena penulis hanya ingin membahas sisi lain dari matematika, sebagai upaya untuk lebih memberikan alasan kepada kita sebagai bagian dari ummat Islam, agar tidak memusuhi/menghindari penguasaan ilmu ini. Serta ingin melihat sisi lain dari keagungan Islam.

II. Pengertian Matematika
Pengertian matematika sebenarnya sangat luas, sehingga banyak para ilmuan memberikan pengertian yang berbeda-beda. Istilah matematika sebetulnya berasal dari bahasa Yunani yaitu “mathematike“ yaitu bahasa latinnya “mathematica“. Kata ini artinya adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan, sebab pengertian “mathema” itupun berarti ilmu. Selain itu matematika berkaitan dengan “mathein” yang berarti belajar dan berfikir. Dariperkataan yunani tersebut muncullah beberapa istilah tentang matematika di berbagai negara, dengan lafadh yang hampir sama.
Bangsa Arab yang juga memberikan adil besar terhadap perkembangan matematika, dalam menyebut ilmu ini menggunakan lafadh yang berbeda-beda yakni dengan istilah: ilmu hisab, ilmu riyadhi, ilmu ta`limi atau ausath walhikmatul wustho.
Walaupun lafadh serta pengertian yang diberikan terhadap matematika berbeda, namun kita akui bahwa matematika merupakan bentuk logika paling tinggi yang pernah diciptakan oleh pemikiran manusia. Hal ini disebabkan karena matematika timbul dari fikiran–fikiran manusia yang berhubungan dengan idea, proses dan penalaran. Sedangkan pemalaran itu sendiri merupakan suatu cara berfikir, yang menjelaskan dan memperlihatkan hubungan dua hal atau lebih dengan menggunakan sifat-sifat (hukum, aksioma, postulat) yang telah diakui validitasnya, dan berakhir dengan manarik suatu kesimpulan.

III. Fungsi Matematika
Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu eksak, dalam hal tertentu berfungsi sebagai bahasa simbolik bagi dunia ilmu pengetahuan, yang memungkinkan terbentuknya suatu komunikasi yang tepat dan cermat. Hal ini dimungkinkan karena matematika merupakan bentuk cara berfikir (logika deduktif) yang memperlakukan objek abstrak dan mengubahnya menjadi generalisasi yang tidak tergantung/terbelenggu oleh sifat fisik semata.
Matematika juga berfungsi sebagai palayan bagi ilmu-ilmu lain dan bagi matematika itu sendiri, yang dengan bahasa, proses dan teorinya tersebut memberi bentuk dan kekuasaan suatu ilmu. Dan di sisi lain, matematika mengandung pola-pola keteraturan, yang berfungsi sebagai penuntun dan panduan dalam pola berfikir kritis, logis, sistematis dan objektif.

IV. Kedudukan Matematika Dalam Islam
Berbicara tentang Islam, tentunya tidak boleh melupakan landasan utama ajaran ini, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam yang bersifat qath`y, yang secara murni merupakan wahyu dari Allah SWT. Dalam hal ini ternyata, Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan yang telah banyak dibuktikan oleh para ahli dewasa ini.
Syeh Thonthowy Jauhari dalam tafsirnya Al-Jawahir telah memberikan penafsiran bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan ilmu secra keseluruhan. Dia bersumpah dengan bilangan genap dan ganjil yang keduanya merupakan bilangan asal ( Qs. Al-Fajr : 3 ). Ini cukup beralasan sekali karena Al-quran memang diturunkan bagi umat yang berakal.
Dalam perkembangan matematika selanjutnya, apa yang disampaikan Al-Qur’an tersebut kini telah terbukti yaitu dengan mincul teori angka yang disebut “Binery System”. Dalam istilah binery ini hanya ada dua macam bilangan yaitu genap dan ganjil. Yang digunakan dalam komputer elektronik yakni 0 ( nol ) dan 1( satu ) untuk mengerjakan hitungan secara modern.

V. Penutup
Dari paparan tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa matematika pun dapat membantu memberikan penjelasan dengan bahasa simbolik secara ilmiah terhadap Islam. Namun demikian, satu hal yang perlu juga penulis sampaikan adalah bahwa tingkat kebenaran secara theologis dari hasil pengkajian tersebut, penulis serahkan semuanya kepada dzat yang Maha Mengetahui yaitu Allah SWT. Sebab kebenaran ilmu pengetahuan itu sendiri bersifat relatif, sedangkan kebenaran Islam adalah mutlak. Hal ini semata-mata karena keterbatasan akal dan pikiran manusia untuk menjangkaunya. Mudah-mudahan apa yang ditulis oleh penulis di atas dapat bermanfaat, sehingga tidak ada lagi presepsi yang negatif tentang matematika itu sendiri.

Daftar Pustaka
Soleh, Mohamad. Pokok-Pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Depdikbud. 1998.
Firdaus, Aep Sy. Shalat Dalam Tinjauan Matematika. Media Pembinaan. 2001.

One comment on “Matematika dalam Islam

  1. itu ada alamat E-Mag ala Endonesa, saat kamu klik komentar saya😀
    iya lah, yang jadi masalah kini hanya problem, fanatisme sempit dan membabi buta serta sibuk berkutat perihal moral dan selangkangan umat lain. apa ndak heran saya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s